Akhirnya bisa nulis satu blog juga. Dengan niat ingin menambah teman dan membagi hal-hal yang bisa dibagi, blog ini jadi juga. Tidak lupa juga, pembuatan blog ini tersinpirasi oleh beberapa blog milik teman-teman yang TOP BeGeTe. Nantinya, blog ini akan diisi dengan hal-hal yang berhubungan dengan budaya di skeitar kita maupun budaya yang berada jauuhh dari kita sesuai dengan nama blog ini…
Sebenarnya apa itu kebudayaan? Mana saja yang dikatakan kebudayaan? Apakah kata “budaya” dan “kebudayaan” itu dua hal yang berbeda? Lalu, adanya istilah “manusia yang tak berbudaya” itu ditujukan untuk siapa dan mengapa klausa itu dipakai dalam masyarakat di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul sudah lama sekali sebelum keputusan untuk membuat blog ini diambil. Semoga dengan menulis, pertanyaan yang sudah lama mengendap di kepala ini bisa terjawab baik secara eksplisit maupun implisit
Koentjaraningrat (1990: 180) mendefinisikan budaya sebagai sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Terdapat 7 unsur kebudayaan yaitu:
- sistem bahasa,
- sistem peralatan hidup dan teknologi,
- sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup,
- sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial,
- ilmu pengetahuan,
- kesenian, dan
- agama atau kepercayaan.
Belajar kebudayaan itu mengasyikan karena bisa tahu banyak hal yang dianggap sepele oleh orang lain yang tidak belajar kebudayaan itu. Mwakipun tidak semua orang harus belajar kebudayaan, kebudayaan butuh orang-orang yang mau perduli. Perduli di sini tidak hanya bermakna harus sekolah di tempat-tempat yang mengajarkan kebudayaan, tapi cukup dengan mau mengetahui kebudayaan yang melekat dalam diri masing-masing. Misalnya, mengetahui bahwa kita suka makanan lokal suatu daerah saja sudha bisa dikatakan bahwa kita perduli. Makanan kan juga salah satu hasil kebudayaan yang bisa mencerminkan suatu masyarakat. Kalau kita ditanya nama daerah asal Empek-empek, pasti kita akan menjawab dengan mudah yaitu dari Palembang. Hal itu karena kita familiar dengan makanan tersebut meskipun kita tidak (perlu) tahu kenapa makanan itu asalnya dari Palembang dan kenapa dinamakan seperti itu. Nanti dalam coretan selanjutnya akan diulas tentang makanan lokal di Indonesia. Ketujuh unsur kebudayaan itu juga akan dibahas bersamaan dengan hal-hal apa saja yang terkait dengan masing-masing unsur tersebut.
Selain kebudayaan, blog ini juga akan diisi dengan ulasan buah-buahan yang ada di Indonesia maupun di negara lain. Dua hal ini menjadi hal yang sangat menarik sehingga perlu dibuat tulisan mengenai hal itu. Pasti di luar sana sudah ada banyak sekali tulisan tentang kebudayaan dan buah, tapi dalam blog ini kedua hal itu akan dipandang sebagai sesuatu yang saling terkait dalam satu istilah yaitu “khasanah budaya.” Teman-teman tau tidak bahwa ternyata ada hubungan antara buah Matoa dengan lama studi seseorang di kampus? Nah, itu salah satu contoh tema yang akan dibahas dalam sesi selanjutnya.
Nanti disambung lagi ya & makasih teman-teman….
Daftar referensi
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.